Sabtu, 06 Oktober 2012

Jumat, 26 November 2010

Anti Stigma dan Diskriminasi

Perdebatan yang panjang memang kerap terjadi dalam penanganan masalah HIV/AIDS, ibarat benang yang sudah kusut, sehingga butuh usaha yang optimal untuk mengembalikanya dalam keadaan yang diharapkan, seperti halnya penyakit kronis yang lainya, HIV/AIDS ternyata membawa kehawatiran yang cukup besar bagi banyak kalangan, tidak terkecuali bagi kalangan praktisi kedokteran sendiri karena sampai saat ini masih belum ditemukan antibiotik yang mampu mengeliminir pergerakan dari virus HIV/AIDS tersebut.

AIDS sebagai salah satu penyakit yang masih belum memiliki formulasi obat yang manjur, hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya jumlah pengidap AIDS diseluruh dunia. Mulai ditemukanya penyakit ini pada tanggal 29 April 1878 di Amerika Serikat, dimana pada waktu itu pemerintahan Amerika Serikat langsung mengeluarkan tindakan karantina. Sekarang ini jumlah pengidap HIV/AIDS mencapai kurang lebih 48 juta orang diseluruh dunia dan terus menerus menunjukkan trend peningkatan dan demikian halnya yang terjadi di Indonesia. Virus HIV/AIDS masuk ke Indonesia pertaman kali pada tahun 1987. Sampai sekarang jumlah penderitanya semakin banyak sekaligus sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan semakin majunya teknologi dan makin meluasnya kegiatan-kegiatan yang mampu menyebarkan virus HIV/AIDS seperti pelacuran, seks bebas, dan penggunaan narkoba. Secara teori, penyebaran virus HIV/AIDS ini tersebar dengan melalui tiga kegiatan yakni berhubungan seks, melalui pertukaran darah, dan melalui ibu menyusui. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa penyebaran virus HIV/AIDS ini melalui cara-cara yang lain, meskipun kasus tersebut masih jarang terjadi. Sejarah telah mencatat perjalanan panjang HIV/AIDS dalam kurun 20 tahun terakhir.

Sejak 1985 sampai 1996 Kasus AIDS diIndonesia masih sangat jarang, sebagian besar berasal dari kelompok homoseksual, sejak pertengahan 1999 mulai terlihat peningkatan yang sangat tajam terutama akibat penularan melalui narkotika suntik, Maret 2005 tercatat 6.789 kasus HIV/AIDS, jumlah ini diperkirakan belum menunjukkan angka sebenarnya. Departemen kesehatan RI pada tahun 2002 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi HIV antara 90.000 sampai 130.000 orang. Estimasi terbaru menyebutkan, jumlah yang terinfeksi HIV lebih dari 500.000 orang. Beberapa pakar kesehatan dan pakar psikolog membenarkan bahwa masih ada masyarakat yang terlanjur menyerap informasi keliru tentang HIV/AIDS. Terutama bagaimana cara penularannya. Akhirnya informasi keliru mengendap, menjadi suatu kepercayaan yang sulit ditinggalkan. "Kepercayaan itu menjadikan penyakit AIDS momok menakutkan dan memalukan atau aib (Stigma, red). Secara spontanitas muncul reaksi masyarakat menjadi sikap diskriminasi, apabila berhadapan dengan penderita AIDS.

Pencegahan dan sikap menghadapi penderita dan keluarganya yaitu dengan menegakkan anti stigma dan diskriminasi. Masyarakat yang tahu informasi benar seharusnya tidak menambah beban penderitaan ODHA. "Perlu diketahui, virus HIV/AIDS tidak mudah menular, sebab hanya bersarang pada sel darah putih tertentu yang disebut sel T4. Karena sel T4 hanya ada pada cairan tubuh, maka HIV ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina dan cairan leher rahim. Penularan HIV/AIDS dari cairan tubuh di atas harus masuk langsung dalam peredaran darah. Memang HIV ditemukan dalam jumlah sangat kecil di air liur, namun sampai sekarang belum ada bukti-bukti penularan lewat liur juga ASI. Cara penularan hanya melalui hubungan seksual dengan pengidap, tranfusi darah, lewat alat suntik atau alat tusuk lain seperti pisau cukur bekas dipakai tercemar HIV dan ibu hamil meghidap HIV kepada janin dikandungnya. "Virus ini cepat mati kalau berada diluar, karena itu HIV tidak bisa menular lewat udara. Sehingga tidak menular ketika bersenggolan, berjabat tangan, bersentuhan dengan pakaian, penderita bersin atau batuk-batuk di depan kita, berciuman (dalam konteks yang wajar), lewat makanan dan minuman, gigitan nyamuk serta bersama berenang di kolam renang, Makanya dengan mengetahui informasi HIV/AIDS ini, maka janganlah sampai ODHA dikesampingkan.

Stigma sendiri lahir akibat persepsi yang bermunculan dari social influence dalam menanggapi arogansi yang berlebihan terhadap penyakit AIDS, yang kemudian akan membelokkan mainset seseorang dari yang semula merasa simpati menjadi apatis terhadap AIDS, tidak berlebihan apabila AIDS dikategorikan Diskriminasi memang suatu konsekuensi dari perubahan era yang semakin terbuka dan telanjang seperti ini, dalam system kenegaraan pun nyatanya banyak fakta yang dapat dihimpun demi memperkuat pendapat tersebut. Atas nama social justice memang tidak dibenarkan apabila manusia dengan mudah menghakimi hak dasar manusia yang lain, karena label yang diberikan untuk pengidap AIDS sangat jauh dari norma kemanusiaan. Kebebasan dalam menikmati hidup seakan terampas karena adanya claim yang dirasa sangat mendiskreditkan para pengidap HIV/AIDS.

Atas nama social justice sangat disayangkan apabila masyarakat berlaku tidak adil terhadap pengidap AIDS, dengan kata laen secara tidak langsung pengidap HIV/AIDS diposisikan sebagai kaum yang termarginalkan atau terasingkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rupanya negara ini belum bisa menjamin persamaan hak dalam hal keadilan, ini terbukti dari kurangnya upaya pemerintah dalam memberikan sosialisasi yang benar perihal penyakit HIV/AIDS secara komprehensif dan berkala, sehingga stigma yang muncul dipermukaan bisa diredam dengan suatu pendekatan yang logis dan ilmiah. Perlu diakui bahwa HIV/AIDS memang memberikan suatu social influence yang luar biasa, tidak hanya dari sudut pandang medis tetapi HIV/AIDS telah memberikan efek negativ terhadap pencitraan seseorang yang terjangkit virus tersebut, begitu banyak bentuk diskriminasi yang dialami oleh seorang yang terindap virus HIV/AIDS, hampir semua perusahaan memberlakukan syarat bagi pekerjanya harus bebas HIV/AIDS, ini fakta yang cukup mengagetkan, padahal jika dilihat data yang diobservasi akhir-akhir ini yang menunjukkan adanya trend peningkatan pengidap HIV/AIDS di Indonesia. Maka dampak bagi angkatan kerja pun mulai akan terancam dengan isu HIV/AIDS tersebut.

Suatu keniscayaan isu diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS dapat direduksi apabila seluruh pihak tidak bekerja sama dalam memberikan pencerdasan terhadap masyarakat secara umum, baik pemerintah, media dan juga keterlibatan masyarakat itu sendiri. Semoga segala bentuk pelanggaran dan penindasan terhadap kaum pengidap HIV/AIDS dapat di minimalisir demi terwujudnya negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.amin

Krisis Global gerbang kebinasaan manufacturing kapitalistik

Krisis secara terminologi memang memiliki tendensi terjadinya ketidakberesan akan sesuatu, namun sejatinya memiliki implikasi yang mahadasyat terhadap berbagai sendi kehidupan tentunya jika memang diletakkan dalam suatu konteks permasalahan yang relevan. Beberapa hari ini krisis yang memang terkenal angker dan sangat tidak diharapkan kehadiranya nyata-nyatanya sedang mengguncang perekonomian dunia. Betapa tidak, perekonomian global merosot tajam dikarenakan daya beli masyarakat menurun disertai anjloknya saham dan mata uang global sebagai imbas dari ketidakpercayaan dan kepanikan spekulasi yang berlebihan para stakeholder modal. Krisis ini diawali ketika terjadinya kredit macet subprime mortgage (kredit perumahan) di Amerika yang secara tidak langsung mempengaruhi cash flow keuangan Amerika yang selama ini masih menjadi donator segar perekonomian dunia, ini artinya system kapitalisme yang melanda dunia sedang runtuh dalam jurang kebinasaan. Baru-baru ini pemerintah Amerika mengambil langkah antisipatif imbas krisis tersebut dengan mengeluarkan kebijakan fiskal yang cukup mengagetkan dengan mencairkan dana mencapai 700 triliun atau yang lebih popular dengan istilah bill out (biaya penanggulangan krisis). Angka yang cukup fantastis untuk ukuran kemampuan suatu Negara,namun sejauh ini kebijakan bill out hanya mampu untuk sekedar menutup kas bocor akibat kredit macet perumahan dan belum sampai menyentuh revitalisasi ekonomi secara keseluruhan baik instrument ekonomi maupun tingkat kepercayaan konsumen dalam menanamkan modal investasi berkelanjutan.


MEWUJUDKAN PERPUSTAKAAN YANG ERGONOMIS DAN BERKUALITAS

Antusiasme dan awareness masyarakat dalam menumbuhkembangkan minat baca memang seharusnya segera direspon dengan cepat oleh otoritas pendidikan dinegeri ini, dalam hal ini kiranya tidak salah bila departemen pendidikanlah yang menjadi promotor dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Setidaknya hal ini merupakan konsekuensi logis dalam upaya peningkatan kualitas peserta didik, baik dari tingkatan pendidikan dasar (elementary level) sampai jenjang pendidikan tinggi (collegial level). Peningkatan mutu jelas tidak akan bisa dibebaskan maknanya tanpa adanya intervensi stakeholder terhadap ketersediaan infrastruktur yang memadai, seperti halnya keberadaan perpustakaan sebagai sumber informasi ilmiah yang bertendensi pada pengembangan keilmuan. Perpustakaan praktis menjadi mitra untuk mendukung kompetensi peserta didik yang terlibat dalam dunia pendidikan itu sendiri. Arti penting sebuah perpustakaan tidak hanya sekedar wacana. Sangat tidak berlebihan jika perpustakaan sering disebut-sebut sebagai jantungnya pendidikan. Perpustakaan juga berfungsi untuk memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, serta sebagai sarana pendidikan sepanjang hayat khususnya melalui buku (text book).

Perkembangan arus globalisasi dan kecepatan informasi mengharuskan adanya revitalisasi bentuk dan fungsi dari perpustakaan secara komprehensif. Beberapa pakar telah menyebutkan sebelumnya bahwa setidaknya fungsi perpustakaan mencakup fungsi edukatif, fungsi administratif,fungsi rekreatif,fungsi penelitian. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan fungsi perpustakaan tersebut, namun kiranya perlu ada strategi dan inovasi baru yang bisa mempermudah dalam menjabarkan fungsi tersebut kedalam realita yang sebenarnya. Perpustakaan tidak sebatas ruang referensi namun juga harus menjadi tempat yang nyaman dan sehat, sehingga mampu menarik minat khalayak untuk melakukan berbagai macam aktivitas dialektika keilmuan secara lebih segar dan energik. Dalam istilah yang lebih populis mungkin bisa diarahkan menuju perpustakaan yang ergonomis. Pengertian ergonomis identik dengan upaya menciptakana situasi yang nyaman sekaligus sehat bagi para pengguna perpustakaan, dalam hal ini mengarah pada pengkodisian ruang perpustakaan yang lebih menarik menurut dimensi etika maupun estetika.

Menciptakan suatu iklim yang menyenangkan bagi para pustakawan adalah salah satu kunci penting dalam mewujudkan fungsi social dan edukasinya, betapa tidak cikal bakal perpustakaan ideal memang harus diawali dengan suatu kondisi yang enjoyed sekaligus berpotensi memberikan suasana rileksasi berfikir, sehingga membantu memudahkan memahami suatu bacaan didalam perpustakaan. Perpustakaan kini sudah mulai berani menghilangkan kekakuan design dan arsitek baik dari sisi bangunan maupun interiornya,

Berbicara ergonomi berarti sama halnya membicarakan masalah secara menyeluruh dari semua aspek yang mempengaruhinya, atau yang biasa disebut perspektif ergonomi makro. Berbeda dengan kajian ergonomi mikro,ergonomi makro (macro ergonomics) tidak hanya menitikberatkan masalah pada sisi fisik namun juga meliputi sisi non fisik yang secara langsung berimbas pada kualitas pelayanan maupun kualitas intelektual yang dihasilkan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa kekuatan eksklusif hanya akan membawa pengertian perpustakaan sebagai tempat mewah yang hanya bisa diakses atau diperuntukkan kepada sebagian orang yang mengenyam bangku pendidikan, secara proporsional memang perpustakaan mempunyai andil besar dalam pengembangan basis-basis pengetahuan.

Konsep plan do check seharusnya selalu menjadi tolak ukur terhadap peningkatan mutu perpustakaan, adapun seharusnya lembaga khusus yang menaungi urusan standarisasi perpustakaan secara intensif, Artinya dengan diberlakukanya prinsip-prinsip ergonomic makro diharapkan dapat mendorong keikutsertaan pihak-pihak terkait (stakeholder) untuk bersama-sama memperbaiki kualitas perpustakaan sesuai kondisi kekinian.

Secara praktis kerangka ergonomic makro telah menjembatani ilmu pengetahuan yang lain untuk masuk dan menciptakan suatu kesinambungan dalam rangka mewujudkan inovasi baru serta meningkatkan nilai tambah (added value) yang pada akhirnya dapat menularkan kemanfaatan yang besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Secara teknis, intervensi ergonomi terhadap konsep perpustakaan akan memberikan suatu pembaharuan yang positif terhadap lingkungan perpustakaan, baik dalam hal infrastruktur atau stakeholder yang terlibat,terlebih untuk para pengguna perpustakaan yang tentunya akan merasa lebih nyaman dengan sarana prasarana serta pelayanan yang baik.

Aspek fisik dan aspek non fisik adalah satu kesatuan yang harus dijalankan fungsinya secara tepat dan proporsional, artinya antara urusan operasional dan urusan pengembangan strategis perpustakaan harus berjalan secara komprehensif. Sarat utama unsur fisik perpustakaan adalah ketersedianya akses pencarian katalog buku secara cepat, salah satu medianya adalah komputer yang update terhadap referensi buku yang tersedianya, banyak kasus yang menunjukkan bahwa perpustakaan tidak begitu banyak memiliki komputer yang bisa dijadikan alat untuk mengakses keberadaan buku yang sedang dicari,sehingga menjadi persoalan yang sangat penting untuk lebih menjadikan sistem lebih efektif dan efisien. Disadari atau tidak, ternyata kebutuhan akan makanan kecil dan minuman ringan menjadi sarat penting dalam membawa konsep perpustakaan memiliki iklim yang nyaman dan memuaskan,namun tetap mengedepankan etika serta estetika ruangan yang direncanakan dengan matang sesuai ketentuan yang diadopsi dari pendekatan ergonomi. Sederhananya, desain ruang perpustakaan harus mampu mengakomodasi kepentingan para pengguna dan mampu menciptakan suatu pembaharuan disamping kelengkapan infrastruktur yang dirasa perlu untuk segera ditambahkan. Secara garis besar desain ruangan perpustakaan harus memiliki beberapa unsure,diantaranya perpustakaan ideal harus memiliki komputer sebagai alat terhadap penelusuran akan ketersediaan sumber buku yang dicari, perpustakaan ideal sebaiknya juga menciptakan suasana rileks dan santai,salah satu pilihannya adalah dengan membangun ruang referensi baca yang mirip dengan rest area yang biasanya dilengkapi drinking shop agar suasana perpustakaan semakin informal namun tanpa mengesampingkan etika saat membaca.

Peranan pemerintah dan jajaran civitas akademika sangat berpengaruh dalam mewujudkan perpustakaan ideal. Kemajuan perpustakaan lambat laun telah menjadi tolak ukur bagi suatu keberhasilan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Keterlibatan pihak-pihak yang terkait (stakeholder) ternyata memberi dampak atas penerapan falsafah ergonomi dalam menjawab persoalan kualitas dan kemunduran peran serta perpustakaan dalam ranah pendidikan, perpustakaan ideal bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, namun juga tidak begitu sulit apabila keterpaduan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan mulai dipacu dan diperhatikan secara seksama.

Gairah Cinta

Malam bersahaja kini telah datang, bersamaan dengan embun dan hembusan angin malam merapi yang mampu menggetarkan tulang-belulang tubuh yang haus akan kasih sayang. Hatiku gundah dengan kesendirian ini , getaran cinta mulai melemah, entah karena bayangan idealis semu atau karena ketidakberdayaanku menggapai cinta wanita.

Bayangan parasmu sirna terbawa canda tawa hidup ini, realitas hidup sungguh terasa berat untuk kujalani. Tak ada yang namanya rindu yang ada hanyalah kecemburuan semata.

Bingung jiwaku ini Tuhan,

Apakah cinta itu butuh biaya Tuhan?

Adakah cinta yang gratis, namun tetap memberikan sentuhan romantisme yang mendalam

Jujur Tuhan,, aku ingin cinta yang sederhana

Aku butuh hawa disaat lara hidupku mendara

Hidupkan jiwa sayangku untuk sesama, aku menusia Tuhan

Aku tidak percaya dengan ketidakadilan mu Tuhan??!!!

Yakinkan aku Tuhan, dengarkan segala keluhresahku

Izinkan aku bercumbu mesra denganya Tuhan

Jangan KAU paksa aku untuk diam

Biarlah aku deklarasikan isi hatiku ini didepan dia Tuhan…

Aku tak kuasa lagi untuk menuggu

Tapi jangan KAU permalukan aku didepan dia

Tebarkan …Tancapkan…Hembuskan kasihku untuk dia

Jangan KAU tahan wahai Tuhanku , biarkan dia berjalan

Aku cinta dia Tuhan

Teguhkan hasrat ini untuk dia


Setiap bertemu kau kelihatan angkuh, tapi tidak angkuh

Setiap kulihat kau acuh, tapi tidak acuh

Setiap aku lirik kau dingin, tapi sebenarnya tidak dingin

Setiap kusenyum kepadamu kau selalu diam membisu, tapi tidak diam membisu

Kau ini gila……….

Tahukah hatiku ini terlalu keruh karenamu

Keruh karena kecewa

Keruh Karena takut untuk melangkah kearahmu

Keruh karena jenuh padamu

Wahai cinta

Sambutlah isyarat dan hasrat cintaku ini

Tunjukkan kalau kau butuh aku

Aku penegasan tentang itu

Jangan kau kurung hatiku ini karenamu

Aku sudah terlalu cemburu denganmu

Aku ingin tidur sejenak dipelukmu

Siapa tahu kau mampu menjadi penawar racun hidupku

Mendekatlah sayang

Dekaplah aku duhai bidadariku

Aku menuggumu dalam setiap malamku

Terlalu sepi jiwaku ini, siramilah dengan canda tawamu sayang

Terimalah aku

Jauhilah dia , kau ini memang untukku

Kutunggu dikeheningan malam berikutnya